• Header_PaBky_2014_Jan.jpg
  • Maklumat Pelayanan.jpg
  • slide_awas.png

       

Pilihan Bahasa

Cari Berita

Website Polling

Pendapat anda tentang web site PA Bengkayang ini
 

Bantuan Online

Statistik Pengunjung

TodayToday63
YesterdayYesterday81
This WeekThis Week475
This MonthThis Month2559
All DaysAll Days607746
UNITED STATES
US

 BERTAUHID ALA IBRAHIM

Oleh : Firman Wahyudi

        Keren Amstrong, penulis buku The Prophet Muhammad mengatakan bahwa sejarah sebuah tradisi agama merupakan dialog berkelanjutan antara realitas transenden dan peristiwa terkini di ranah duniawi. Orang beriman menyelidik masa lalu yang disucikan, menelisik makna yang dapat berbicara secara langsung kepada kondisi kehidupan mereka. Sebagian besar agama memiliki figur utama seorang individu yang menjelmakan ideal-ideal iman tersebut dalam sosok manusia. Dalam merenungkan kesunyian Budha, kaum Budhis melihat realitas tertinggi nirwana yang ingin diraih oleh masing-masing mereka. Dalam Yesus orang kristen mendedah kehadiran ilahi sebagai kekuatan kebaikan dan kasih sayang di dunia. Begitu pula dalam Islam, sosok Muhammad merupakan penyampai risalah Allah dalam membumikan pesan-pesan langit melalui aksi perubahan sosial yang dilakukan waktu itu.

         Salah satu tokoh sejarah agama besar di dunia adalah Ibrahim. Selain dikenal sebagai Bapak Tauhid, beliau merupakan figur sentral dari tiga agama samawi di dunia. Melalui sosok beliaulah ajaran suci ini berkembang dan meluas di dunia, namun karena faktor pemahaman dan doktrin sejarah sehingga membuat tiga agama ini berbeda dalam manifestasinya.

Perjalanan Spritual

            Dalam Q.S Al-An’am : 74-78, Allah menarasikan tentang perjalanan spritual Ibrahim dalam menemukan Tuhannya. Dengan akal budi dan puncak kearifan tertinggi dia berusaha mencari Tuhan yang kekal, Tuhan yang tak redup bagai bintang, Tuhan yang tak sirna laksana bulan dan Tuhan yang tak terbenam bak Matahari. Dengan bahasa Tauhid dia bersaksi untuk menghadapkan seluruh hati dan fikirannya (Hanifan) hanya untuk Tuhan. Dia juga berserah diri dan menggantungkan seluruh kehidupannya (Musliman) hanya kepada Tuhan semesta Alam.

           Ujian utama ketauhidan ini bermula ketika dia berhadapan dengan berhala-berhala Azar yang merupakan ayah kandungnya sendiri. Setelah menghancurkan semua berhala dan menggantungkan kapak dileher berhala terbesar, dengan bahasa santun dia kritik ayahnya "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. Ujian kedua datangnya dari raja Namruz, dia membakar Ibrahim dengan tuduhan telah menciderai agama nenek moyang mereka yang telah menjadi tradisi turun menurun. Namun berkat ketuhidan yang kokoh Allah menyelamatkan Ibrahim dari panasnya api Namruz.

           Narasi diatas memberikan makna bahwa siapa saja yang telah hanif (menemukan Tuhan dalam kehidupannya) dan muslim (menyerahkan seluruh diri dan kehidupannya hanya kepada Allah) pasti akan menemui ujian hidup baik dari lingkungan keluarga, atasan, pekerjaan, jabatan maupun penguasa. Semakin tinggi idealisme ketauhidan seseorang maka semakin besar pula ujian yang dilaluinya. Kekuatan dalam menghadirkan Tuhan dalam kehidupan kadang menjadi ujian terberat bagi seorang Muslim, hingga ketika dia betul-betul berserah diri (tawakkal) dan berada pada titik nol yang dalam bahasa Fisika Modern disebut Zero Quantum, Allah akan mendatangkan keajaiban-keajaiban yang tak terduga karena Tuhan pasti bersama orang-orang yang bertauhid.

Kebajikan Yang Sempurna

        Estafet ujian tehadap Ibrahim tak berhenti disini. Bertahun-tahun dia telah membina keluarga dengan Sarah namun tak kunjung mempunyai anak. Ditengah kesabaran dan kepasrahannya itu akhirnya Ibrahim mempersunting Hajar sebagai isterinya. Dari rahim Hajar inilah lahir seorang putera yang bernama Ismail. Rasa kegembiraan dan keceriaan mulai nampak dari raut muka Ibrahim. Namun ditengah kegembiraan tersebut Allah kembali menguji Ibrahim dengan bahasa mimpi untuk menyembelih Ismail sebagai wujud pengurbanan kepada Allah.

      Karena Ibrahim sudah berazam dan berpasrah diri kepada Allah, maka dia penuhi titah ilahi tersebut dengan penuh keikhlasan. Sikap Keikhlasan dan kepasrahan tersebut, membuat Allah yakin akan ketauhidan Ibrahim dan memerintahkan Jibril untuk mengganti pengurbanan tersebut dengan seekor kibas. Sejarah ini telah diabadikan Allah dalam alquran dan menjadi dasar pentasyriatan ibadah qurban bagi umat Muhammad SAW.

          Kisah diatas merupakan simbol bagi umat manusia ketika dia telah mencintai apa yang dimilikinya berupa anak, isteri, harta benda, pangkat dan jabatan melebihi cintanya kepada Allah, maka disitulah ada Tuhan-Tuhan lain dihatinya. Dihatinya masih ada dunia dengan segala atribut kemewahannya. Ketika hatinya dipenuhi dengan dunia, maka Allah memerintahkan untuk menyembelih sifat-sifat keduniawian tersebut lewat ibadah kurban, yang dalam penafsiran Qurais Shihab dimaknai simbolik dengan menyembelih seluruh sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia.

          Sejarah Ibrahim merupakan potret sempurna untuk menilai kualitas spritual kita, apakah kita masih bertuhan Allah atau tidak? apakah dunia lebih kita cintai daripada sang pemilik dunia? Ibadah kurban merefleksikan indahnya berbagi dan memberikan apa yang kita cintai hanya untuk Allah, karena disitulah letak kebajikan yang sempurna...! Wallahu’alam.


*Penulis Hakim Pengadilan Agama Bengkayang