• Header_PaBky_2014_Jan.jpg
  • Maklumat Pelayanan.jpg
  • slide_awas.png

       

Pilihan Bahasa

Cari Berita

Website Polling

Pendapat anda tentang web site PA Bengkayang ini
 

Bantuan Online

Statistik Pengunjung

TodayToday108
YesterdayYesterday78
This WeekThis Week687
This MonthThis Month2082
All DaysAll Days607269
UNITED STATES
US

PREDIKSI PASTI

AWAL PUASA DAN HARI LEBARAN 1435 HIJRIYAH

Oleh : Dendi Abdurrosyid, S.HI

Sebagai aparatur Pengadilan Agama yang hidup di lingkungan masyarakat tak ayal dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dari masyarakat seperti kapan mulai puasa atau kapan lebaran. Jawaban yang paling gampang biasanya “nanti saja tunggu pengumuman dari pemerintah” atau “kalau di kalender sih tanggal sekian atau tanggal sekian”. Jawaban tersebut pada dasarnya sah-sah saja, tetapi tentu masih menyisakan pertanyaan karena belum ada jawaban yang kongkrit, jika menunggu pengumuman pemerintah berarti masih harus terus bersabar menunggu hasil sidang isbat Menteri Agama, kemudian mau melihat kalenderpun tampaknya masih ambigu karena untuk lebaran biasanya memiliki dua tanggal merah.

Bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu berarti mengetahui kapan mulai puasa atau kapan lebaran dari jauh-jauh hari, tapi bagi sebagian orang terkadang membutuhkan informasi tersebut secepatnya, misalnya untuk mengatur kapan jadwal mudik, mengatur tanggal pembelian tiket pesawat, mengatur jadwal kunjungan silaturahmi ke saudara, bahkan terkadang informasi tersebut dibutuhkan oleh ibu-ibu untuk dapat mengatur kapan harus membeli daging untuk lebaran, jangan sampai kejadian pada tahun-tahun sebelumnya terulang kembali, dimana ibu-ibu yang telah membeli daging yang banyak untuk lebaran besok harinya tiba-tiba pada malam harinya pemerintah mengumumkan lebaran diundur 1 hari.

Metode imkanur rukyat yang digunakan oleh Pemerintah yang mengharuskan penentuan awal puasa menunggu hasil rukyat (melihat hilal[1] secara langsung) dahulu sampai sore hari tanggal 29 Sya’ban atau dapat dikatakan cuma satu malam sebelum puasa baru bisa ditentukan kapan mulai puasa tampaknya terlalu lamban untuk mengambil keputusan. Bayangkan saja sidang isbat Menteri Agama biasa digelar pada pukul 7 malam sedangkan apabila ternyata awal puasa dinyatakan besok harinya, maka saat itu juga sholat tarawih baru bisa ditentukan.

Memang bukan pekerjaan mudah untuk merubah paradigma pemerintah tersebut, para ahli agama dan para penguasa telah banyak mengupayakan mencari solusi tersebut, yang akhirnya timbul perbedaan-perbedaan metode seperti yang dilakukan Muhammadiyah yang menggunakan metode wujudul hilal, sehingga penentuan awal puasa maupun lebaran bisa ditentukan sejak jauh-jauh hari.

Namun untuk memahami paradigma pemerintah tersebut sebetulnya sangat simpel, karena meskipun harus menunggu sidang isbat Menteri Agama, tetapi pada dasarnya sejak jauh-jauh hari arah dari keputusan pemerintah tersebut sudah dapat ditebak, hanya dengan satu ketentuan kita harus dapat mengetahui posisi hilal setelah ijtimak[2] pada akhir bulan sebelumnya (pada tanggal 29 sya’ban untuk awal puasa dan pada tanggal 29 ramadhan untuk hari lebaran). 

Pertanyaan selanjutnya bagaimana kita dapat mengetahui posisi hilal pada bulan tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini ada 2 cara yang dapat kita gunakan : Pertama, cari informasi di internet. Cara ini yang paling mudah karena kita tinggal membuka blog atau website hasil perhitungan-perhitungan yang telah dihitung oleh badan hisab rukyat, ormas atau para ahli ilmu falak. Disana kita tinggal bandingkan hasil-hasil perhitungannya yang biasanya semua hasilnya hampir sama, kemudian ambil salah satu sebagai patokan. Kedua, menghitung sendiri. Cara ini memang lebih rumit, apalagi menggunakan cara-cara seperti yang diajarkan di pesantren-pesantren dan perguruan tinggi Islam atau seperti yang dicontohkan oleh Badilag dalam buku “Data Ephemeris Matahari dan Bulan tahun 2014” yang menggunakan perhitungan manual dengan menggunakan kalkulator, cara ini membutuhkan waktu yang lama dan lebih rentan terjadi kekeliruan. Sekarang sudah ada aplikasi yang bisa menghitung otomatis posisi hilal dengan hanya memasukan nama daerah dan tanggal yang diinginkan. Aplikasi ini bisa kita dapatkan dengan mendownload di internet seperti di website http://rukyatulhilal.org, http://hisabcenter.badilag.net, dan http://moeidzahid.site90.net atau dapat meminta ke Lembaga-Lembaga Hisab Rukyat.

Sebagai contoh pada puasa ramadhan tahun 2014 / 1435 H ini :

Ijtimak akhir bulan Sya'ban

Jumat, 27 Juni 2014 (29 sya’ban) pukul 15.10 WIB

Tinggi Hilal malam Sabtu    

Untuk Indonesia antara 0,10 - 0,50 derajat di atas ufuk

 

Ijtimak akhir bulan Ramadhan

Minggu, 17 Juli 2014 (29 ramadhan hitungan pemerintah) pukul 05.42 WIB

Tinggi Hilal malam Senin                    

Untuk Indonesia antara 3,30 - 3,55 derajat di atas ufuk

                        Sumber data: kisaran hasil kolaborasi dari berbagai sumber badan hisab

Ketentuan yang digunakan pemerintah secara sederhana yaitu sebagai berikut:

-          Apabila tinggi hilal tersebut di atas 2,0 derajat, maka dapat dipastikan hasil sidang isbat akan menyatakan awal puasa atau lebaran “besok”.

-          Apabila tinggi hilal di bawah 2,0 derajat, maka dapat dipastikan hasil sidang isbat akan menyatakan awal puasa atau lebaran adalah “lusa”. Berdasarkan pengalaman kalaupun ada orang yang mengaku telah melihat hilal pada waktu rukyat, maka “tidak akan digubris” oleh Menteri Agama, meskipun orang tersebut telah disumpah oleh Pengadilan Agama.

-          Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku. 

 

Dari data dan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa Pemerintah 99,99 % akan menetapkan sebagai berikut:

Awal puasa Ramadhan 1435 H 

Minggu, tanggal 29 Juni 2014

Awal Syawal/lebaran idul fitri 1435 H

Senin, tanggal 28 Juli 2014

Dengan demikian bagi yang mengikuti pemerintah puasa Ramadhan tahun ini dilaksanakan selama 29 hari.

Sedangkan untuk Muhammadiyah yang menggunakan metode wujudul hilal (selama hilal tersebut telah di atas 0 derajat maka telah masuk awal bulan), maka akan menetapkan sebagai berikut:

Awal puasa Ramadhan 1435 H 

Sabtu, tanggal 28 Juni 2014

Awal Syawal/lebaran idul fitri 1435 H

Senin, tanggal 28 Juli 2014

Dengan demikian bagi yang mengikuti Muhammadiyah puasa Ramadhan tahun ini dilaksanakan selama 30 hari.

Hari Raya Idul Fitri 1435 H seperti yang telah disebutkan di atas antara pemerintah dan Muhammadiyah akan sama-sama jatuh pada hari Senin tanggal 28 Juli 2014, karena tinggi hilal pada malam Senin-nya antara 3,30 - 3,55 derajat telah melampaui persyaratan minimal 2 derajat serta ijtimak terjadi pada jam 5.42 subuh sehingga untuk sampai bulan terbenam lebih dari 8 jam. Tapi tentu dengan satu asumsi baik Pemerintah maupun Muhammadiyah tidak merubah paradigmanya.

“Wallahu a’lam bish shawab



[1] Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam

[2] Ijtimak adalah peristiwa dimana Bumi dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama, jika diamati dari Bumi